Mengikhlaskan


Bukan untuk dilupakan, namun untuk dikenang. Dikenang sebagai pembelajaran dan pengalaman hidup. Belajar menjadi dewasa, karena ada banyak hal yang harus di gapapa-in., begitu kata Rintik Sedu yang akhir-akhir ini menjadi tokoh favoritku. Aku menjadi sangat menyukainya sejak aku mendengar semua podcast yang dia unggah di Spotify. Iya. Aku kembali waras setelah mendengar suaranya di platform itu. Semua hal makin membaik sampai hari ini. Pun ketika harusnya aku merasa gagal, kecewa dan bersedih, aku tetap tenang dan menjadi dewasa untuk setiap hal yang datang kepadaku. Tenang "kalau hari ini belum berhasil, besok dicoba lagi ya". Entah kenapa aku selalu merasa termotivasi dengan kalimat itu.

Dalam beberapa kasus, aku gakbisa menanggapi dengan langsung. Terkadang aku butuh jeda untuk membuat semuanya menjadi jelas dan menyiapkan hatiku untuk ikhlas. Sepertinya itulah caraku untuk menjadi dewasa. Karena ketika diriku langsung merespon apa yang sedang terjadi dengan keadaan hati yang kurang baik bisa membuat banyak hal menjadi kacau. Memang tidak semua hal harus ada jawabannya sekarang. Kalau sekiranya butuh jeda, maka lakukanlah. Sampai kamu siap untuk segala resiko yang akan terjadi di depan, baru kemudian laksanakan.

Kadang hidup ga melulu tentang 'aku'. Ada orang lain yang perlu dimengerti dan dipahami apa maunya. Rencana yang telah dibangun dengan sangat indahnya pun ga selalu sesuai dengan apa yang sebenernya kita butuhkan, karena Allah lah Sang Maha Pemilik Rencana.

Btw, tulisan diatas adalah draft sebelum corona meningkat secara signifikan sampai hari ini. Belum kulanjutkan lagi sampai kamu membaca tulisan di paragraf ini.

Sepertinya tahun 2020 ini memang identik dengan kata "mengikhlaskan". Semua rencana yang telah tersusun rapi, bisa dengan mudahnya gagal dilaksanakan. Dari hal kecil sampai hal besar sekalipun. Dari unit individu sampai negara bahkan dunia. Semua rencana berganti strategi. Dari yang awalnya offline menjadi online. Ya begitulah cerita singkatnya. Mari kembali pada draft saya diatas.

Tugas kita sebagai manusia hanya berusaha dan berdoa, perihal dikabullkan atau tidak adalah mutlak hak Allah. Tapi ketika kita berdoa, saya kira pasti Allah akan mengabulkan, hanya saja dalam bentuk seperti apa itu yang belum bisa diketahui. Bisa jadi ketika kita berdoa memohon A, Allah memberi kita B. Kan Allah yang maha tahu apa yang kita butuhkan. Pada intinya, apapun yang diberikan Allah, tugas kita adalah bersyukur. Yakin suatu saat kita akan sadar "alhamdulillah, aku dikasih Allah B, coba dikasih A mungkin aku ga akan sebahagia ini". Yaa kurang lebih begitu sih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KENAPA HOBI POSTING?

LINE